Sejarah Cirebon – Bagian I

 

muarajati3

Muara Jati

Cirebon yang asalnya bernama caruban merupakan sebuah wilayah yang terbentuk diatas heterogenisme suku dan bangsa. Kata Caruban itu sendiri memiliki makna ‘campuran’, sebagai bukti bahwa sebutan tersebut setidaknya menjelaskan titik awal wilayah ini terbentuk bersamaan dengan meleburnya kemajemukan suku, bangsa, serta adat di dalamnya. Tanpa bermaksud meng-eliminir citra kota Cirebon yang dewasa ini terkenal sebagai ‘kota wali’, rasanya banyak hal yang perlu dimunculkan juga sebagai ciri dari kota ini atas dasar pondasi sejarah yang turut pula memperkuat konstruksi pembentukan wilayah ini dari waktu ke waktu.

Dunia telah banyak memberikan contoh kepada kita bahwa banyak peradaban besar dimulai dan dibangun di tepian perairan. Sebagai syarat utama yang mutlak dibutuhkan bagi kehidupan dasar manusia, secara historis pun air berperan penting dalam proses pembentukan dan peradaban manusia. Karena faktor inilah kemudian mereka bertemu, berkumpul lalu membentuk komunitas yang pada akhirnya terbangun sebuah kebudayaan dan peradaban di antara mereka. Sebut saja Mesir, Mesopotamia, India dan Cina. Peradaban besar mereka dimulai pada pemukiman-pemukiman penduduk disebuah tempat yang dialiri air oleh sungai-sungai Nil, Eufrat, Tigris, Gangga, Indus, Hoangho dan Yang Tse Kia. Tak terkecuali dengan Indonesia, dua kerajaan tertua di nusantara terletak di tepian air. Kerajaan Kutai terletak di aliran sungai Mahakam di Kalimantan Timur, dan Kerajaan Tarumanegara terletak pada aliran Sungai Citarum di Jawa Barat.

Begitu juga dengan Cirebon. Sebuah desa nelayan kecil bernama “Muara Jati” merupakan titik awal yang membawa sejarah panjang kota ini. Cirebon, secara geografis terletak di tepian pantai utara Jawa (Pantura), yang pada masa awal pembentukannya dilengkapi dengan sungai-sungai yang sangat penting peranannya sebagai jalur transportasi ke pedalaman yang letaknya di sekitar Pelabuhan Cirebon yaitu; Sungai Cimanuk, Pekik, Kesunean dan Cilosari.

Keberadaan Cirebon sebagai pelabuhan diperkuat oleh laporan-laporan sejarah yang dibuat oleh Tome Pires dalam kunjungannya ke Cirebon pada tahun 1513. Ia menggambarkan kota Cirebon sebagai kota yang mempunyai pelabuhan yang bagus yang pada waktu itu ia datang menyaksikan 3-4 jung dan kurang lebih 10 lancara. Ia menggambarkan juga bahwa Kota Cirebon dihuni oleh sekitar 1000 orang. Letak Kota Cirebon dapat dicapai dengan menggunakan jung dan terdapat pasar yang jauhnya 1 km dari istana. Di kota itu tinggal 7 pedagang besar diantaranya adalah Pate Qadir, seorang bangsawan pedagang yang pernah menjadi kepala perkampungan Jawa di Malaka.

muarajati2

Cirebon pada mulanya merupakan desa nelayan yang bernama Dukuh Pesambangan (sekarang menjadi komplek Astana Gunung Jati, kurang lebih 5 km arah utara dari Kota Cirebon). Sebelah timur dari komplek pemakaman terdapat Pelabuhan Cirebon pertama bernama Muara Jati. Manuskrip kuno Purwaka Caruban Nagari menyebutkan bahwa pada abad XIV pelabuhan Muara Jati ini telah disinggahi banyak kapal-kapal dagang dari berbagai negara dan wilayah nusantara antara lain Cina, Arab, Parsi, Bagdad, India, Malaka, Tumasik (Singapura), Pasai, Jawa Timur, Madura dan Palembang untuk berniaga dengan penduduk setempat. Hilir-mudiknya perahu dagang dari berbagai negara dan wilayah ini menyebabkan dukuh Pesambangan menjadi lebih ramai dan keadaan masyarakatnya makmur dan sejahtera.

 

Bersambung…

 

 

Penulis                : Andri Nugraha

Sumber               : dari berbagai sumber

 

Shares
Share This