Sunan Gunung Jati

CirebonMedia.com- Cirebon adalah sebuah kota di Jawa barat Yang merupakan salah satu Kota Wali Di Indonesia. Di tanah Cirebon Bersemayam salah satu Tokoh Yang sangat berarti dalam penyebaran Islam di Indonesia Khususnya Jawa barat yaitu Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Beliau lahir sekitar 1450 M, Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama Walisongo. Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa Barat, Sunan Gunung Jati merupakan salah satu dari Keturunan Nabi Besar Muhammad SAW. Berikut adalah silsilah dari kanjeng Sunan Gunung Jati :

Sunan Gunung Jati Bin Syarif Hidayatullah Al-Khan bin Sayyid ‘Umadtuddin Abdullah Al-Khan bin Sayyid ‘Ali Nuruddin Al-Khan Bin ‘Ali Nurul ‘Alam bin Sayyid Syaikh Jumadil Qubro Bin Jamaluddin Akbar al-Husaini Sayyid Ahmad Shah Jalal Bin Ahmad Jalaludin Al-Khan binSayyid Abdullah Al-‘Azhomatu Khan bin Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir bin Sayyid Alawi Ammil Faqih bin Muhammad Sohib Mirbath bin Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin Sayyid Alawi Ats-Tsani bin Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin Sayyid Alawi Awwal bin Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi bin Sayyid Muhammad An-Naqib bin Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin Sayyidina Ja’far As-Sodiq bin Sayyidina Muhammad Al Baqir bin Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Al-Imam Sayyidina Hussain Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad.

 Ayahnya adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar, seorang Mubaligh dan Musafir besar dari Gujarat,India yang sangat dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Maulana Akbar adalah  putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramaut, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucunya Imam Husain. Sedangkan Ibu Sunan Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang atau Syarifah Muda’im yaitu putri dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang atau Pangeran Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana, Cakrabumi atau Mbah Kuwu Cirebon Girang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi bin Ahmad.

Sunan Gunung jati Peran yang sangat vital dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang sebagian besar beragama Hindu dan Budha, kanjeng sunan mengenalkan Islam dengan cara yang lembut dan halus tanpa paksaan sedikitpun serta sunan tidak merubah apa yang menjadi kebiasaan masyarakat pada masa itu namun kanjeng sunan menyisipkan hal-hal kebaikan serta sedikit demi sedikit mengarahkan masyarakat dengan bukti dan penjelasan yang ringan.

Dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa, Sunan Gunung Jati tidak  bekerja sendirian, beliau sering ikut bermusyawarah dengan anggota wali lainnya di Masjid Demak. Bahkan disebutkan beliau juga membantu berdirinya Masjid Demak. Dari pergaulannya dengan Sultan Demak dan para Wali lainnya ini akhirnya Syarif Hidayatullah mendirikan Kesultanan Pakungwati di Cirebon dan ia memproklamirkan diri sebagai Raja yang pertama dengan gelar Sultan.

Pada era Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan gelar Sunan Gunung Jati dapat dikatakan sebagai era keemasan perkembangan Islam di Cirebon. Sebelum Syarif Hidayatullah, Cirebon dipimpin oleh Pangeran Cakrabuana 1447-1479 M merupakan rintisan pemerintahan berdasarkan asas Islam, dan setelah Syarif Hidayatullah, pengaruh para penguasa Cirebon masih berlindung di balik kebesaran nama Syarif Hidayatullah.

Dengan berdirinya Kesultanan tersebut Cirebon tidak lagi mengirim upeti kepada Pajajaran yang biasanya disalurkan lewat Kadipaten Galuh. Tindakan ini dianggap sebagai pembangkangan oleh Raja Pajajaran. Raja Pajajaran tak peduli siapa yang berdiri di balik Kesultanan Cirebon itu maka dikirimkannya pasukan  prajurit pilihan yang dipimpin oleh Ki Jagabaya.

Tugas mereka adalah menangkap Sunan Gunung Jati yang dianggap lancang mengangkat diri sebagai raja tandingan Pajajaran. Tapi usaha ini tidak berhasil, Ki Jagabaya dan anak buahnya malah tidak kembali ke Pajajaran, mereka masuk Islam dan menjadi pengikut Sunan Gunung Jati. Dengan bergabungnya prajurit dan perwira pilihan ke Cirebon maka makin  bertambah besarlah pengaruh Kesultanan Pakungwati. Daerah-daerah lain seperti : Surantaka, Japura, Wana Giri, Telaga dan lain-lain menyatakan diri menjadi wilayah Kesultanan Cirebon. Lebih-lebih dengan diperluasnya Pelabuhan Muara Jati, makin  bertambah besarlah pengaruh Kasultanan Cirebon.

 

 

Oleh: Harja

Image By: Bhakti Gunawan/ Cirebon Media, Google.com

 

Shares
Share This